 | Category: | Books | | Genre: | Religion & Spirituality | | Author: | Komunitas Sekolah Kehidupan |
Hidup adalah suatu rangkaian proses yang berulang. Dari satu generasi ke generasi, mulai dari terciptanya dunia, serta Adam dan Hawa. Selama dunia belum kiamat, maka sekolah kehidupan akan tetap ada. Tinggal kita saja yang harus menentukan. Akan memanfaatkannya atau tidak. Sinang Bulawan The Founder of SKSekolah Kehidupan pada awalnya merupakan suatu komunitas milis sekolah-kehidupan@yahoogroups.com yang didirikan tanggal 14 Juli 2006, oleh Sinang Bulawan. Komunitas ini dibentuk untuk saling mengisi dan berbagi pengalaman sesama anggota, mengenai sisi-sisi kehidupan yang tidak diberikan dalam sekolah formal. Begitu juga kali ini, ketika Ramadhan menjelang, maka kita sesungguhnya berada dalam sebuah sekolah yang sesungguhnya. Setalah rehat selama 11 bulan, maka datanglah masa ujian. Marhaban ya ramadhan. Tak ada kata yang mampu menggambarkan suasana hati ini ketika bulan yang penuh kerahasiaan itu datang. Ibarat tamu agung yang selalu dirindukan oleh setiap perindu cinta Illahi. Sebuah kenikmatan yang tak terganti bagi setiap insan yang haus meraih kasih sayang Ilahi, muara pengharapan terujung dan penggenggam hati setiap jiwa. Ramadhan, ada begitu banyak hikmah yang berserakan di setiap permukaannya. Lalu kita dengan kesederhanaan hati, menghimpun hikmah itu dengan banyak cara. Membaca surat cinta-Nya setiap saat, berbagi kebahagiaan dan rezeki, mengeja sabar, dan banyak lagi. Lalu, sebagaian sahabat tak ingin melepaskannya tanpa jejak. Mereka menuliskannya dalam jurnal harian, blog, bahkan secarik catatan kecil. Dan kami menghimpunya satu persatu. Memberinya judul, dan ilustrasi. Hingga kebaikan itu bisa kita nikmati bersama. Sebagiannya terangkum dalam buku ini, buku sederhana yang berisi kisah-kisah unik selama ramadhan, sebagai bentuk lain dari rasa syukur sahabat SK untuk bulan seribu cinta. Salam seribu bulan Dani Ardiansyah www.sekolah-kehidupan.comsekolah-kehidupan@yahoogroups.com  | Category: | Books | | Genre: | Other | | Author: | Komunitas Sekolah Kehidupan |
Cahaya Keseharian Untuk KitaOleh : Kurnia EffendiPembelajaran terjadi sepanjang usia kita. Berlangsung berabad-abad seiring dengan sejarah umat manusia. Persis seperti yang dikatakan oleh Sinang Bulawan, pendiri milis "sekolahkehidupan", bahwa hidup adalah suatu rangkaian proses yang berulang dari satu ke generasi berikutnya sejak Adam dan Hawa. Sebelum dunia kiamat, sekolah kehidupan akan tetap ada.
Buku yang sedang saya bedah ini berjudul Menggenggan Cahaya (selanjutnya MC). Filosofis tanpa harus mengerutkan kening. Cahaya telah menjadi simbol positif dari sebuah (proses) pencerahan. Sebuah bungarampai puisi dan kisah inspiratif. Saya tertarik dengan logo "sekolah kehidupan". Bagus dan kaya makna. Empat keping anak puzzle yang 'hendak' terangkai. Satu keping di antaranya, yang siap melengkapi dan menyempurnakan, mungkin mewakili diri kita, mungkin juga sosok pemberi pelajaran bagi kita. Posisi hendak melengkapi itu seperti terus berlangsung tanpa kunjung sempurna. Itulah hidup – seperti ketika saya menulis cerpen dengan inspirasi kehidupan – tak pernah benar-benar selesai. Kita semua hanya memetiknya berupa fragmen dari pelbagai sudut yang kita mau atau merupakan given dari Sang Maha Hidup.
Ada sekitar 50-an tulisan, berupa puisi dan prosa yang mengangkat kisah-kisah, baik pengalaman pribadi maupun orang lain. Semua ditulis penuh perasaan: saya mengenalinya ketika membacanya. Ketika sang penulis dengan tulus mencurahkan isi hati dan gagasannya, sesederhana apa pun, pembaca akan menerima energi kasih sayang itu tanpa harus dipaksakan. Saya menilai, nyaris semua yang tertuang dalam buku ini menggugah perasaan, terlebih yang tampil berupa prosa. Puisi, dengan penafsiran yang lebih beraneka, memang tak serta merta kita pahami sasarannya.
Membaca buku "MC", kita akan menemukan banyak tokoh transisi. Mereka adalah manusia proaktif yang bukan hanya bereaksi dengan kehidupan, melainkan merespon kehidupan. Dalam kisah-kisah isnpiratif itu, mereka termasuk golongan terpilih yang memiliki kekuatan untuk survive dalam hidup tanpa menanggalkan kemanusiaannya yang rentan oleh masalah.
Saya tidak bisa mengatakan ada kisah terbaik dalam buku ini karena setiap pembaca akan memiliki ikatan emosional tersendiri dengan ruang pengalaman pribadi yang mungkin setara dengan kisah yang dibacanya.
"Lin, Aku Belajar Banyak Darimu", yang dituturkan Setta sangat berkesan buat saya. Mengingatkan seorang tokoh ajaib dari Korea, Hee Ah Lee yangs aya tuliskan memoarnya. Dengan kasus yang berbeda, Lin, selalu memikirkan orang lain padahal dirinya sangat menderita. Ujarannya yang tetap mengandung senyum dan gairah hidup membuat kita yang sehat dan normal menjadi malu luar biasa.
Kisah lain, tentangs eorang anak kelas III SD di Malang yang menyumbangkan tabungannya sebesar 'hanya' Rp. 7.500,- untuk membantu saudara setanah air yang tertimpa bencana banjir di Jakarta. Ia tewas ditabrak sepeda motor selepas dari bank tenpatnya mengirim uang. Adakah Tuhan sengaja menghadiahinya dengan pahala sebagai pahlawan secara mati syahid? Kita tak pernah tahu rahasia Sang Khalik.
Banyak pula renungan pribadi sang penulis dengan memandang masa lalunya sendiri. Dari temuan yang sudah dianggap sejarah, ternyata ada pelajaran serupa cermin yang memantulkan diri kita sebenarnya. Perjalanan itu jadi menarik karena membuktikan bahwa kita tumbuh. Hidup yang kita jalani saat ini pada hakikatnya dampak dari keputusan yang kita ambil di masa lalu, dan keputusan yang kita ambil dari hari ini akan membentuk kita di masa depan. Ketika Febti Febrianti mempertanyakan cinta, ada semacam upaya meyakinkan diri bahwa suami pilihannya adalah lelaki terbaik baginya. Keyakinan itu penting untuk jalan panjang yang hendak dilaluinya.
Saya kira, buku ini merupakan kumpulan cara "mengasah gergaji" bagi masing-masing yang mengalami. Bukan semata berhenti di situ. Saat buku ini kita baca, proses "mengasah gergaji" kembai berlangsung pada kita, tanpa harus turut mengalami. Ada tiga dimensi yang disentuh oleh buku ini.
Pertama, mengenai mental dan wawasan. Secara tidak langsung kita akan menyerap setiap pengalaman penulis atau tokoh yang ditulis sebagai pengetahuan literer (bukan empirik). Hikmah yang dipetik senilai dengan pengalaman itu, seprti anjuran agar tidak memulai dari nol untuk setiap usaha memajukan teknologi. Bagi para penulis itu, ternyata belajar tak harus kepada guru yang intelektual. Seorang tukang sampah dan peronda malam bisa membuka pikiran seseorang untuk peduli kepada orang lain.
Kedua, perihal spiritual, yang banyak memengaruhi sikap dan pandangan para penulis setelah bersentuhan dengan kerohanian. Bukan secara harafiah, karena spirit berhubungan dengan kedalaman hati. Misalnya, rindu yang dibangun dengan sikap hormat, rasa bersalah yang dipendam bertahun-tahun, kekaguman atas perjuangan di balik sikap galak…Mimpi dan harapan disusun melalui semangat, melalui spirit yang terjaga.
Ketiga, terkait dengan sosial atau humaniora. Seseorang disebut dewasa bukan hanya ditimbang dari biologisnya. Psikologis dan sosial juga turut menentukan. Saya merasakan keeratan hubungan sosial para penulis dalam buku ini. Ada kepedulian, keinginan belajar dari orang lain, pengamatan yang komprehensif, dan kesan-kesan yang dibangun melalui pergaulan. Bahkan, sebuah komunitas dengan sendirinya telah menunjukkan kekuatan sosial para anggotanya.
Secara pribadi saya menyambut baik terbitnya buku yang kaya akan hikmah ini. Para penulisnya sebagian besar merupakan pengarang yang aktif mengisi blog dan karya-karyanya pernah diterbitkan. Saya tidak melihat kegagapan dalam menyampaikan gagasan dan mempresentasikan realitas. Saya mengenal Retnadi Nur'aini sebagai pemenang lomba cerpen Tabloid Parle, yang memiliki latar belakang sebagai jurnalis. Epri Tsaqib seorang penyair yangs aya kenal sejak 2006. Aryy Amilin pernah saya dengar pembacaan puisinya pada HUT RI di TIM beberapa hari lalu. Hasan Bisri, sahabat dalam satu organisasi Komunitas Sastra Indonesia.
Pada akhirnya saya salut dengan Pak Sinang Bulawan yang konsisten untuk terus memelihara kehangatan milis dan komunitas ini. Menggenggam Cahaya merupakan buku kelima "sekolah kehidupan" dalam perjalanan dua tahun.
Bagi saya, kelahiran para penulis generasi baru di Indonesia sangat diperlukan. Saya yakin, kegemaran membaca dan terbukanya wadah untuk menuangkan karya berupa tulisan, akan menumbuhkan bibit-bibit berbakat. Selamat datang sebagai pembagi pencerahan!
Ditulis untuk pengantar diskusi buku Menggenggam Cahaya dari Komunitas "Sekolah Kehidupan"
Jakarta, 27 Agustus 2008 – 16:15
*)Makalah disampaikan oleh Pak Kurnia Effendi sebagai pengantar diskusi buku "Menggenggam Cahaya" pada acara sastra Reboan (PASAR MALAM) Komunitas Apresiasi Sastra (Apsas) pada Rabu, 27 Agustus 2008 pukul 20.00 WIB - selesai di Warung Apresiasi Sastra (Wapress) Bulungan, Blok M, Jakarta Selatan.
  | Category: | Books | | Genre: | Entertainment | | Author: | Arham Kendari |
Sudah tahu buku yang berjudul kambing jantan bukan? Yupz, kumpulaan tulisan yang lebih mirip diary yang di tulis oleh Raditya Dika pada blognya di internet, ternyata mendapatkan sambutan yang luar biasa dari para pembaca, ketika akhirnya kumpulan tulisan tulisan tersebut di rangkum dalam sebuah buku dengan gaya asli si penulisnya. Lain Kambing Jantan, lain pula buku yang satu ini. Jakarta UnderKompor. Dengan konsep penggarapan yang sama (sama-sama berasal dari blog) dengan Kambing Jantan, Jakarta UnderKompor yang ditulis oleh seorang bloger, Arham Kendari yang berasal dari Sulawesi Tenggara, tepatnya di Kendari, salah satu daerah di kepulauan Papua (Jayus.com). Buku ini cukup dekat dengan saya, dalam arti yang sesungguhnya. Dari awal proses penerbitannya, saya dan Istrilah yang turut membidani kelahiran buku tersebut. Sejak pembukaan pertama, kedua dan seterusnya, bahkan sampai pecah ketuban. (loh, ini kok malah ke persalinan?). Arham Kendari, adalah salah seorang seleb di dunia maya. Coba saja buktikan dengan mengetikan namanya sebagai keyword di mesin pemotong rumput; Google. Niscaya, Anda akan di arahkan pada banyak tempat yang hampir keseluruhan bersifat mistik (garing, ah). Jakarta UnderKompor adalah sebuah kumpulan tulisan yang ditulis oleh Arham Kendari di beberapa blognya yang tersebar di Internet, coba blog walking ke beberapa blognya yang ini, ini dan ini. Buku ini didisain dengan sederhana dengan tetap memerhatikan unsur kenyamanan para pembaca. Pemilihan judul yang mengadopsi spelling sebuah judul buku: Jakarta Under Cover.
Disain Cover yang cukup unik, yang langsung mengingatkan kita pada para kaum dhuafa yang banyak bertebaran di Jakarta ini, sebuah artefak yang dimodifikasi dengan kemampuan grafis si Penulis itu sendiri. Patung Api Nan Tak Kunjung Padam yang berada di bundaran Senayan ini, di modifikasi sehingga menjadi sedemikian rupa, disesuaikan dengan judul tersebut. Lihat gambar Membuka halaman-halaman awal buku ini, kita segera akan menemukan kegilaan si penulis. Semoga sekarang dia sudah menjadi waras. Konsep indie dalam penerbitan buku ini, telah memberikan kebebasan berakspresi dari si penulis. coba perhatikan orang2 di 'balik layar' buku ini di halaman awal. Itu namanya penjajajahan, masa dia semua sih? Hiks, kasian editornya nyempil sendiri. Membaca keseluruhan isi buku ini, mungkin kita akan menemukan sesuatu yang lain dari biasanya. Tidak hanya joke imajiner hasil khaayalan yang mengada-ada. Tapi berasal dari realita yang kemudian disublimasi dengan kacamata berbeda. (emang proses sublimasi pake kacamata?). Ditambah karikatur racikannya sendiri (racikan?) yang akan memperkuat imajinasi pembaca pada cerita di dalam buku tersebut. Hampir disemua judul tulisan dalam buku ini, kita akan mendapatkan hikmah atau pelajaran (minimal, kita akan sadar bahwa kita telah menyia-nyiakan waktu dengan membaca buku tersebut) Hehehe, Piss.
Gaya penceritaan yang memang tidak mengikuti kaidah, ka imah, kak imron dan kak Seto, dan ka EYD, menjadikan terasa begitu akrab. Seolah-olah kita tengah benar-benar mendengarkan si Penulis berbicara.
Overall: Buku ini pantas dimiliki, untuk sekedar menjadi barometer antara kesadaran yang penuh, dan penuh yang kesadaran (apaan seeh?), kocak abiz, ga nyisa. Ringan (karena tidak terlalu tebal), menyenangkan, baik hati dan tidak sombong, rajin menabung, dan yang lebih utama adalah orisinal, karena buku ini diterbitkan secara indie. Harganya yang murah, hanya Rp. 25.000 saja. Pembaca akan mendapatkan pengalaman memnbaca buku yang tak terlupakan (hiperbol).
Sebagai sebuah karya, anak negeri. Jakarta UnderKompor memiliki beberapa kelemahan yang tidak terlalu mengganggu. Arham Kendari, si penulis buku ini tidak terlalu melekatkan lokalitas budaya Kendari yang mayoritas bersuku Bugis, padahal, itu bisa menjadi kelebihan tersendiri untuk jenis buku seeprti ini.
Penjualan buku ini memang hanya dilakukan online alias via internet, jangan harap Anda akan mendapatkan buku ini di binatu, atau wartel-wartel kesayangan Anda, Bahkan Gramediapun tidak menjual buku tersebut. Ingat, buku ini hanya dijual secara online, jika ada penawaran dalam bentuk selain online, pihak distributor tidak menjamin keasliannya. Harap memeriksa tanggal kadaluarsa buku tersebut. Dan jangan diterima jika segel rusak. Info penjualan resmi, ada disini:Distributor Online Jakarta, tengah malam 31 Maret 2008 
| |